Adalah dia orang baru yang mengisi sebagian hari-hari ketika kita pas punya jadwal bisa bertemu. Tak sibuk memang, tapi untuk sering bertemu pun kita tak mampu. Hanya butuh 5 menit basa basi pertmuan pertama, dan titik. Tak ada lagi peristiwa penting yang bisa mempertemukan kami sampai satu saat, ketika saya bertemu dia (lagi) di pasar ikan. Saya dalam posisi pulang, dan dia dalam posisi baru datang.
Adalah dia sosok baru, ketika dalam adegan tersebut, berpapasan dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke pasar ikan menemani dia yang baru saja datang. Tidak butuh waktu lama untuk kembali mengingatkan memori kami tentang pertemuan 5 menit basa basi pertemuan pertama sebelumnya.
Entah kenapa, berlebihan atau bukan dia seperti sosok lama dalam wujud baru dikirim pada saya. Semenjak pertemuan-pertemuan itu, saya benar-benar bisa dengan mudah dan percaya menceritakan hal yang belum tentu saya berani ceritakan bahkan kepada orang lama saya sebelumnya.
Adalah dia saudara baru saya, yang saya tak segan bercanda dan menjadikan bahasa bahasa gaul, santai, sederhana, kompleks sebagai bahasa sehari hari kami.
Walau dia adalah wujud baru yang datang dalam hidup saya, saya bisa merasakan sambutan rasa hangat yang tidak membuat batasan besar mengenai hal baru diantara kami. Mungkin bahasa saya agak kompleks, tapi mungkin kau kan langsung mengerti maksud saya...
Kau juga tak ragu bercerita masa lalu mu, tapi baiklah sebagian cerita yang tak penting itu hanya kita jadikan lelucon di hari sekarang, dan cerita bahagia, sedih, pelajaran bisa kita renungkan dan belajar dari semua kejadian tersebut. Dan saya juga mulai berani untuk melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan, karena saya sudah terlanjur percaya untuk mengatakan hal-hal yang berhak kau tahu tentang saya.
Dengan segala yang telah terjadi, dalam haru kau mencoba menghibur saya. Bahkan mengunjugi saya dan membawa makanan ke rumah sakit. Siapakah sosok baru yang bisa melakukan itu? Menghibur ketika lidah ini menuntut makanan pedas, sehingga dapur mungil mu beraroma tengik terasi dan ikan patin.
Terbesit sedih yang sedikit menghantui, ketika akan berhadapan dengan waktu, jika saya harus berpisah denganmu. Kau tahu masalah, rintangan yang sedang saya coba lalui untuk melanjutkan sekolah lagi. Dan kau tau, ketika tak bisa lagi melawan waktu yang mengharuskan saya untuk berhenti, kita pun pasti berpisah. Tak bisa terbayangkan secepat ini akan kehilangan mu (walau kita masi belum tau hasilnya). Tapi kau sudah beri banyak kenangan bagi saya. Smoga kita bisa jalankan rencana untuk jalan bareng ya.. Dan jangan lupa kirim undangan utuk saya bisa mengunjungi mu!! :)
Beberapa waktu lalu, kau bercerita kehilangan kakak-mu dan saya ikut bersedih pastinya. Dan hari ini saya dengar kabar Ibu-mu menyusul kakak-mu. Saya hanya bisa terdiam, ikut merasakan kehilangan seperti yang kau rasakan. Dengan segala pengalaman yang kau lalui dan rasakan, saya percaya kau bisa melewati ini semua. Dan saya harap ini adalah puncak kesedihanmu yang akan segera Tuhan balaskan dengan kebahagian yang menunggu mu nantinya.
Kalau ditanya, kapan si preman ini terakhir kali menitikkan air mata?
saya akan menjawab hari ini, sekarang ini, detik ini juga. Di tengah
haru mu kehilangan separuh jiwamu, ibu-mu disini juga saya mengharu karnamu.
Yang kuat... Tuhan tahu batas kekuatan manusia, pun merasa lemah, Dia memberi kekuatan sehingga ketika kita jatuh kita tak sampai tegeletak karna Dia menggendong kita.
Surat buat si Jan*uk
Kak Karina Reichel