Translate

Thursday, February 16, 2017

Hitam Abu Putih




Berawal dari SKSD seorang pacar-mantan pacar yang ngakunya selalu berhubungan baik dengan mantan-mantan pacar dia yang sekarang, doi pun add saya dan mulai percakapan lewat media chat. Dari sekadar topik yang biasa biasa aja sampe hal aneh yang bagi kita keliatan biasa, biasa aneh. Dan anehnya percakapan absurd itu masi berlanjut sampe sekarang.

Doi hanya sedang meragu saja, butuh tambahan orang buat share kisah ini walau kepada orang yang adalah saya, yang tinggal nun jauh di sebrang kontinen dan bersedia mendengar keluh kesah nya. Untungnya saya masi available 24 jam. Sampai-sampai partner saya bilang kalu doi ini girlfriend saya, karna almost anytime I have the conversation with her.

Doi yang sedang galau terhadap jalan mana yang harus dilakukan. Bersikap egois dengan menomersatukan perasaan cinta dan menghiraukan kebahagiaan umat kebanyakan, atau tetap terkungkung dengan rasa kesakithatiannya dengan memilih tetap bersama dengan keluarga kecil yang telah dia pilih dan dirajut beberapa tahun ini.

Pertanyaan nya adalah, pilih kamu atau keluarga ku. Kalau lagu Dewa bilang nya: „Cinta kau dan dia“, tapi dalam hal ini, „Cinta kau tak dia.“ Sebenarnya secara umum untuk orang yang tidak berada di posisi doi, bisa dengan gampang nya menjawab pertanyaan soal pilih memilih ini. Tapi mari seolah membantu dia, kita sumbangkan usaha, tenaga, waktu dengan memberi beberapa jawaban. Menurut saya sendiri, ada dua opsi.

Opsi pertama pilih hati dan pilih dia, bahagia, tak perduli orang bilang apa. Dan Opsi dua merontokkan keegoanku, rasaku dan berjalan maju dengan keluarga yang telah kupilih dulu sebelum memulai nya.

Terlepas dari segala konsekuensi dari opsi opsi di atas, untuk mencoba menelaah nya saya sendiri pun sulit, ibarat penyakit mungkin uda komplikasi. Kalau menurut judul Warkop, Maju kena mundur kena.

Apakah kita perlu menyalahkan mantan saya itu karena semejak SMP dulu sekarang baru bisa kembali dekat lagi dan baru sekarang bias menunjukkan emosi gejolak hati dengan doi yang (sayang nya) telah membangun keluarga yang diharapkan samawara seperti doa awal mereka pada janji nikah dulu? Atau kita perlu menyalahkan doi yang telah jujur dan membiarkan rasa yang telah mereka punya dan pendam semenjak SMP, bisa bersatu sekarang walau dengan situasi yang tidak tepat?  Atau perlu kah kita salahkan pasangan doi yang innocent, tidak tau mengenai rasa simpan menyimpan perasaan yang telah dipendam semenjak dulu oleh dua orang itu?

Terlepas dari protes dan pertanyaan saling tuduh, saya rasa bukaan saatnya nya mencari siapa yang salah. Karena ini sudah terlanjur terjadi, ibarat kecebur, mau balik lagi dan pilih jalan lain, ato milih berenang sekalian? Tapi ya tetap saja,  tidak ada yang salah dengan rasa sayang, hanya waktu yang kadang kurang tepat untuk menghampiri. Saat nya mencari jalan keluar. Memilih A atau B atau milih stay in between yang akan menyengsarakan segala umat. Tapi si between adalah pilihan pengecut. Warna pilihan selalu itam atau/dan putih, bukan abu.
Yang pasti jalan keluar yang benar adalah mencari kebahagiaan. Bahagia yang benar adalah jika semua orang bisa merasakan bahagia kalian. Bahagia yang tidak baik adalah ketika bahagia itu hanya milik berdua saja, dan sisanya sedih melihat kalian bahagia.



Sorry I can't love you
sorry bcos I want him more
this too complicated, they said
but I don't want to choose
between black or white
I will stay in between
til it's not complicated anymore
like they said.